…
aqimish-sholaata. Innash-sholaata tanhaa ‘anil fakhsyaa-i wal munkar. Wa
ladzikruwloohi akbar. Wawloohu ya’lamu maa yashna’uun. … Dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan
sesungguhnya mengingat Allah (baca: Shalat) adalah lebih besar keutamaannya
dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Qs. al Ankabuut: 45).
Dalam
pada itu, didapati kenyataan sebaliknya. Masjid-masjid kosong, dan teramat
sedikit yang shalat dengan segenap jiwa raganya. Dan didapati pula banyak yang
mengerjakan shalat, namun maksiat tetap terlaksana “dengan baik”.
Bisa
pula lantaran memang ketiadaan ilmu tentang shalat.
Ash-sholawaatu
kaffaarotun limaa bainahunna. Antara shalat fardhu ke shalat fardhu berikutnya
adalah penebus dosa yang terjadi di antara waktu keduanya. Maj-tunibatil
kabaa-iru. Selama dosa besar dijauhi. (HR. ath Thabrani, Ahmad dan al
Haitsami).
Buat
saya pribadi, (Ust.YM :red) jadwal shalat yang satu ke shalat yang satunya lagi
adalah jadwal ketemuan sama Pemberi Solusi, Penjawab Doa, Pemberi Rizki,
Pengatur Yang Maha Berkehendak, Pengatur Yang Berkuasa, Penyelamat, Pelindung,
dan hal-hal besar lainnya yang melekat sama Allah. Jika pertemuan dengan
pemodal lebih kita inginkan, maka berarti kita belom mengenal Allah. Apalagi
jika sampe pertemuan dengan pemodal itu sampai mengalahkan waktu shalat. Itu
tanda belom mengenal Allah. Jika sedang bermasalah, lalu minta bantuan sama
polisi, lawyer, kenalan, yang kira-kira bisa membantu, bisa melindungi, bisa
menyelamatkan, namun ke Allah nya malah belakangan, malah nanti-nanti, malah
lebih condong kepada manusia, maka itu pun tanda bahwa belom mengenal Allah
kali. Masih lebih kenal sama manusia. Jika sedang kekurangan, lalu datang
bertamu ke orang kaya, ke tetangga, ke saudara, yang semuanya kita kenali sebagai
yang bisa memberi bantuan, maka bisa jadi kerinduan akan shalat tidak ada.
Sebab jika butuh bantuannya Allah, Allah bisa ditemui setiap saat. Dan
saat-saat yang tepat, mustajab, adalah saat di mana datang waktu shalat dan
shalat ditegakkan. Makanya doa setelah shalat itu adalah doa mustajab ya
sebabnya itu. Jauh melebihi sekedar diterimanya kita sama manusia yang kita
harapkan sementara manusia itu padahal belom tentu bisa membantu.
Mendengarkan saja beloman tentu. Kalaupun menerima dan mendengarkan, belom
tentu juga mau membantu. Jika pun mau membantu, belom tentu sepenuh hatinya,
bisa terus-terusan, tiada bosan, dan sanggup mencukupi semua yang kita
butuhkan.
Maka
ketahuilah, harusnya shalat itu dirindukan dari waktu ke waktunya. Coba
getarkan hati, ya Allah, kapan waktu zuhur datang? Aku ini hendak mengadu
kepada-Mu. Banyak sekali masalah di pagi hari ini. Gitu contohnya. Atau jadi
media kita berterima kasih sama Allah: Ya Allah, di waktu shubuh ini aku datang
kepada-Mu. Mau berterima kasih. Semalam aku bla bla bla… Nanti, di pagi hari
dan siang hari ini aku akan dapat bla bla bla. Gitu. Rindu buat berterima
kasih.
Atau
dirindukan sebab mau laporan. Mau ngadu. Ba’da lohor, ada sms dari klien, bahwa
dia mau ketemuan jam 17, mau bawa orang yang mau beli 1 unit perumahan yang
sedang kita pasarkan. Duh, kita ga mau gagal. Sebab itu kepengen segera datang
ashar supaya bisa kemudian melaporkan keadaan terakhir ba’da lohor tadi.
Subhaanallaah.
Apalagi
lewat hadits di atas, Allah menjanjikan ampunan buat kita atas dosa-dosa yang
kita perbuat di antara dua waktu shalat. Kita ini betul-betul manusia yang
buanyak sekali dosanya. Ada dosa tauhid yang saya perkenalkan di Kuliah Tauhid.
Ini sangat layak meminta ampun kepada Allah. Sebab masuknya harusnya dosa besar.
Dosa mempersekutukan Allah. Namun wallaahu a’lam, dianggap dosa enteng. Saya
pun gegabah menyebutnya dosa tauhid. Namun jika Saudara mengikuti kajiannya,
mungkin akan sepaham.
Begini,
kita ini sering sekali “melangkahi” Allah. Melewati Allah. Allah tidak dijadikan
poros, tidak dijadikan pusat, tidak dijadikan segala-galanya. Keterbatasan ilmu
tauhid barangkali dan atau mungkin karena menganggap enteng yang beginian,
sehingga disebut sebagai bukan kesalahan melainkan ikhtiar.
Ketika
Saudara lapar, Saudara punya duit, langsung saja Saudara mencari tukang nasi.
Kebetulan lagi tukang nasi lewat. Saudara panggil lah dia. Otak kita merespon
demikian cepatnya. Munculkan lah “ingat akan Allah nya”, sekecil apapun
peristiwa kita anggapnya. Begitu muncul rasa lapar, “Ya Allah, makasih ya, udah
ngasih rasa lapar. Dan ketika rasa lapar ini menyerang, ada rizki yang Engkau
beri.” Begitu mata melihat tukang nasi goreng lewat, “Alhamdulillah, makasih ya
Allah, pas ada tukang nasi.” Dan bismillahnya mulai dari terbersit pengen nyari
tukang nasi. Bukan pada saat nasi ini terhidang. Dan bahkan kebanyakan orang
suka lupa bismillah. Allah ga diingat sama sekali. Jika tidak terlisankan, ya
hadirkan hati lah. Kecuali bismillahnya. Kalo bisa diucapkan. Diborong di pagi
hari, boleh. Di awal waktu mengatakan begini: Ya Allah,
bismillaahirrohmaanirrohiim… Apapun yang saya lakukan, hitung ibadah ya… Insya
Allah kelalaian saya tertutup oleh Kebaikan-Mu dan Kemurahan-Mu ya Allah.”
Dengan “diborong” begini, bisa jadi agak selamat. Tapi yang top memang bisa
dikasih visi misi di setiap kegiatan. Sehingga tidak ada aktifitas kecuali ia
membawa kita kepada Allah. Dalam urusan makanan, beri visi misi dengan
menambahkan niat misalnya. “Ya Allah, saya laper. Saya mau cari makanan dengan
rizki-Mu ini. Agar saya bisa kembali bekerja. Saya niatkan makan ini untuk-Mu,
dan kerja yang berikut untuk-Mu dan karena-Mu.”
Di
Kuliah Tauhid, melalaikan yang begini-begini, disebutnya ya dosa. Atau kalau
dosa sebutannya berat, ya kesalahan dah. Kesalahan melupakan Allah. Insya Allah
dosa-dosa begini pun mudah-mudahan diampunkan ketika waktu shalat datang, kita
ingat akan Allah dan shalat.
Belom
lagi urusan-urusan yang besar. Wuah, suka bener-bener lupa deh sama Allah. Di
urusan maksiat juga, masya Allah, jarang yang bisa bertahan ga kegoda. Namun
andai ingat sama Allah, ya mudah-mudahan ga kegoda sama maksiat. Contoh. Jam 10
malam diajak ke tempat maksiat, sedang tadi barusan shalat, mudah-mudahan ada
sedikit getar di hati, “Ga enak sama Allah. Baruuuuu
saja ngadep tadi, masa sudah bermaksiat…? Betul loh. Baruuuu saja dosa antara
maghrib dan isya diampuni Allah, masa sudah bikin maksiat baru ba’da isya.
Apalagi nanti shubuh mau ngadep sama Allah, ga enak ngadep bawa dosa melulu.”
No comments:
Post a Comment