Mungkin sang Judul nampak jakasembung dengan apa yang akan dibahas disini...
karena memang saya tergelitik ingin mengkaitkan ilmu yang sedang dipelajari dalam filosofi beladiri aikido.
"Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi" yang berarti bahwa Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun" (Morihei Ueshiba)
kalo dipikir2... selama ini Islam memang
selalu mengajarkan hal tersebut, tapi memang juga banyak umatnya yang
belum total dalam memahami n menjalaninya. mendapatkan ilmu ini dari
aikido, sekilas mengingatkan kembali, betapa berbahayanya sang Hawa
Nafsu bila tidak bisa kita kendalikan.
berikut adalah salah satu dari sekian banyak ayat di Al Quran yang membahas tentang Hawa Nafsu dan beberapa Hadistnya.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)
Sebagian
orang bijak berkata, "Barang siapa menyirami anggota badannya dengan
hawa nafsu, maka ia menanam pohon penyesalan dalam hatinya." [Imam
Al-Ghazali, Mukâsyafah al-Qulûb, h. 17]
Terdapat tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan.
Rasulullah
s.a.w bersabda, maksudnya: "Tiga perkara yang menyelamatkan, yaitu
takut pada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil
pada saat nyaman maupun marah, bersikap cermat ketika susah dan senang,
dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau
bakhil dan kagum terhadap dirinya sendiri."
Hawa
nafsu perlu dilawan, tetapi melawannya bukan perkara yang mudah. Maka
jihad melawan hawa nafsu lebih utama daripada jihad lain.
Dalam menghadapi pertarungan jiwa ini manusia terbahagi kepada tiga golongan:
1.
Golongan yang dapat ditewaskan oleh hawa nafsu mereka. Inilah golongan
orang kafir dan orang yang menuruti cara mereka, yaitu orang yang
melupakan Allah, lantas Allah melupakan mereka.
2.
Golongan yang berjihad melawan dirinya yaitu bertarung memerangi hawa
nafsunya. Kadangkala mereka menang dan kadangkala mereka kalah. Apabila
mereka menyadari mereka bertaubat dan apabila mereka melakukan dosa
mereka menyesal dan memohon ampun daripada Allah.
3.
Golongan maksum (terpelihara dari dosa) iaitu para nabi dan rasul. Nabi
dan rasul adalah mereka yang dikurniakan keistimewaan oleh Allah sesuai
dengan tanggungjawab yang dipikul oleh mereka sebagai penyampai risalah
Allah kepada seluruh manusia.
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: "Orang yang berjihad itu ialah mereka yang berjihad menentang nafsunya. "
Para
sahabat nabi ketika pulang dari berperang dengan orang-orang kafir
sering berkata, "kami telah kembali dari jihad terkecil menuju ke jihad
terbesar!".
Demikian
ini disebabkan melawan hawa nafsu dan syaitan berlaku pada setiap masa,
sementara berperang dengan orang kafir jarang sekali. Dengan demikian,
upaya melawan hawa nafsu adalah sangat mulia bahkan melebihi jihad
berperang. Beratnya melawan hawa nafsu itu sendiri diakui oleh para
sahabat nabi.
Bahkan
Nabi Sulaiman a.s. pun pernah bersabda : "Sungguh, upaya mengalahkan
hawa nafsu lebih berat ketimbang menaklukkan sebuah kota!" [Al-Ghazali,
Mukasyah al-Qulub, h.15]