Atlet-atlet muslimah ini membuktikan bahwa “bukan agama, bukan ras, bukan pula gender” yang jadi penghalang untuk berprestasi.
Jumat, 18 Maret 2016
Elham, kala itu 32 tahun, berniat berenang sejauh 20 kilometer dan memecahkan rekor kecepatan, mengarungi Laut Kaspia. Selama bertahun-tahun gadis itu berlatih dan merancang baju renang khusus untuk memenuhi “syariat” Islam. Baju renang khusus itu sesungguhnya tak nyaman sama sekali untuk dipakai berenang. Beratnya 6 kilogram dan desainnya mengabaikan pakem aerodinamika untuk berenang lebih cepat.
Foto : France24
Elham mulai kenal olahraga air itu sejak umur 5 tahun. Air adalah dunia kedua baginya. “Kadang aku merasa seperti seorang amfibi, bisa hidup di dua dunia,” kata Elham. Sejak kenal air, cita-citanya adalah berenang di laut. Tapi jadi atlet renang di Iran harus menempuh jalan berliku dan berhadapan dengan “tembok” yang tinggi. Pemerintah Iran tak pernah mengizinkan perenang-perenang perempuannya ikut berlomba di kolam terbuka, di hadapan penonton laki-laki, di mana pun, lantaran dianggap tak sesuai syariat Islam.
Pada 2010, di bawah pengawasan staf Kementerian Olahraga, Elham berenang di laut sekitar Pulau Kish. Saat baru berenang sejauh 5 kilometer, Elham menuturkan kepada France24, perahu cepat polisi Iran melintas dan menyerempet kakinya. Jika ayahnya tak menolong, entah bagaimana nasib Elham.
Sempat hampir putus asa, semangat Elham kembali
bangkit untuk mengejar mimpinya berenang di Laut Kaspia. Setiap hari dia
berlari sejauh 12 kilometer dan berlatih di air sejauh 5 kilometer.
Tiga tahun kemudian Elham mengulang usahanya memecahkan rekor dan
kembali membentur “tembok”.
Tak seperti laki-laki muslim, arena olahraga memang masih belum memberi banyak tempat bagi atlet-atlet yang berniat bertarung dengan mengenakan hijab. Sarah Attar, pelari 800 meter asal Arab Saudi, mendapat tepukan gemuruh dari seluruh penonton begitu kakinya menginjak garis finis di Stadion Olympics, saat pergelaran Olimpiade 2012 di London.
Sarah, yang mengenakan kostum lari tertutup rapat, tak mendapat medali. Dia mencapai finis hampir satu menit di belakang peraih medali emas, Janeth Jepkosgei Busienei, dari Kenya. “Satu kehormatan bagiku bisa mewakili Arab Saudi,” kata Sarah kepada Daily Mail. Untuk pertama kalinya, Kerajaan Saudi memberi lampu hijau bagi atlet perempuan ikut berlari di lintasan atletik. Izin itu tak diberikan dengan gampang. Pemerintah Saudi memberikan restu pada menit-menit akhir setelah dihujani kritik kiri-kanan.
Pemerintah mengatakan seislamis apa pun baju renangku, tetap tak bisa diterima.Elham, dibantu temannya, Farvartish Rezvaniyeh, menumpahkan kekesalan lewat video dan menyebarkannya lewat jejaring sosial. “Aku tak percaya ketidakadilan ini dialami pemecah rekor seperti dia,” kata Farvartish kepada Guardian. Elham berjanji tak akan menyerah. “Rekorku disandera oleh mereka yang berenang sejauh 20 meter saja tak mampu.... Aku sudah melewati hari yang keras siang dan malam. Aku tak akan menyerah di bawah tekanan ini.”
Tak seperti laki-laki muslim, arena olahraga memang masih belum memberi banyak tempat bagi atlet-atlet yang berniat bertarung dengan mengenakan hijab. Sarah Attar, pelari 800 meter asal Arab Saudi, mendapat tepukan gemuruh dari seluruh penonton begitu kakinya menginjak garis finis di Stadion Olympics, saat pergelaran Olimpiade 2012 di London.
Sarah, yang mengenakan kostum lari tertutup rapat, tak mendapat medali. Dia mencapai finis hampir satu menit di belakang peraih medali emas, Janeth Jepkosgei Busienei, dari Kenya. “Satu kehormatan bagiku bisa mewakili Arab Saudi,” kata Sarah kepada Daily Mail. Untuk pertama kalinya, Kerajaan Saudi memberi lampu hijau bagi atlet perempuan ikut berlari di lintasan atletik. Izin itu tak diberikan dengan gampang. Pemerintah Saudi memberikan restu pada menit-menit akhir setelah dihujani kritik kiri-kanan.
Sarah Attar, pelari dari Arab Saudi di Olimpiade 2012
Foto: Boston Globe
Foto: Boston Globe
Prestasi atlet-atlet berhijab ini memang belum seberapa, tapi mereka
membuktikan, menjadi muslimah bukanlah persoalan di arena olahraga.
Atlet bela diri Inggris, Ruqsana Begum, terpaksa merancang sendiri
kostumnya untuk bertanding. “Kostumku terbuat dari Lycra, jadi sangat
lentur,” kata Ruqsana kepada BBC. Dia terinspirasi gaya kostum
Ruqaya al-Gasara, pelari 200 meter asal Bahrain yang meraih medali emas
di Asian Games 2006. Nike merancang khusus kostum untuk Ruqaya. “Aku
pikir keberadaan hijab sport akan menarik lebih banyak gadis muslimah di
arena olahraga.”
Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, Ibtihaj Muhammad, 30 tahun, akan menjadi atlet yang mewakili Amerika Serikat pertama yang mengenakan hijab dalam sejarah. Gadis asal Maplewood, New Jersey, itu akan bertarung dengan anggar untuk merebut medali. “Bawa pulang medali emas...tanpa tekanan,” Presiden Barack Obama menyampaikan pesan langsung kepada Ibtihaj saat berkunjung ke masjid di Baltimore bulan lalu.
Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, Ibtihaj Muhammad, 30 tahun, akan menjadi atlet yang mewakili Amerika Serikat pertama yang mengenakan hijab dalam sejarah. Gadis asal Maplewood, New Jersey, itu akan bertarung dengan anggar untuk merebut medali. “Bawa pulang medali emas...tanpa tekanan,” Presiden Barack Obama menyampaikan pesan langsung kepada Ibtihaj saat berkunjung ke masjid di Baltimore bulan lalu.
Hiba Awad
Foto: SadafSyed
Foto: SadafSyed
Ruqaya al-Gasara di Asian Games 2006
Foto: Getty Images
Foto: Getty Images
Di Piala Dunia Anggar awal Februari lalu, Ibtihaj
merebut medali perunggu dan lolos ke Olimpiade. Kini dia berada di
peringkat ketujuh dunia. “Aku ingin bertarung di Olimpiade dengan
membawa bendera Amerika untuk membuktikan bahwa tak ada sesuatu yang
mestinya jadi rintangan untuk meraih sesuatu. Bukan agama, bukan ras,
bukan pula gender,” ujar Ibtihaj, dikutip TeamUSA.
Desainer: Fuad Hasim
from http://x.detik.com/detail/intermeso/20160318/Petarung-petarung-Berhijab-/index.php