Friday, 25 November 2016

MASA KATSU AGATSU KATSU HAYABI

Mungkin sang Judul nampak jakasembung dengan apa yang akan dibahas disini...
karena memang saya tergelitik ingin mengkaitkan ilmu yang sedang dipelajari dalam filosofi beladiri aikido.
 "Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi" yang berarti bahwa Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun" (Morihei Ueshiba)

kalo dipikir2... selama ini Islam memang selalu mengajarkan hal tersebut, tapi memang juga banyak umatnya yang belum total dalam memahami n menjalaninya. mendapatkan ilmu ini dari aikido, sekilas mengingatkan kembali, betapa berbahayanya sang Hawa Nafsu bila tidak bisa kita kendalikan.
berikut adalah salah satu dari sekian banyak ayat di Al Quran yang membahas tentang Hawa Nafsu dan beberapa Hadistnya.
 
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)

Sebagian orang bijak berkata, "Barang siapa menyirami anggota badannya dengan hawa nafsu, maka ia menanam pohon penyesalan dalam hatinya." [Imam Al-Ghazali, Mukâsyafah al-Qulûb, h. 17]
Terdapat tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan.
Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: "Tiga perkara yang menyelamatkan, yaitu takut pada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil pada saat nyaman maupun marah, bersikap cermat ketika susah dan senang, dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil dan kagum terhadap dirinya sendiri."
Hawa nafsu perlu dilawan, tetapi melawannya bukan perkara yang mudah. Maka jihad melawan hawa nafsu lebih utama daripada jihad lain.
Dalam menghadapi pertarungan jiwa ini manusia terbahagi kepada tiga golongan:
1. Golongan yang dapat ditewaskan oleh hawa nafsu mereka. Inilah golongan orang kafir dan orang yang menuruti cara mereka, yaitu orang yang melupakan Allah, lantas Allah melupakan mereka.
2. Golongan yang berjihad melawan dirinya yaitu bertarung memerangi hawa nafsunya. Kadangkala mereka menang dan kadangkala mereka kalah. Apabila mereka menyadari mereka bertaubat dan apabila mereka melakukan dosa mereka menyesal dan memohon ampun daripada Allah.
3. Golongan maksum (terpelihara dari dosa) iaitu para nabi dan rasul. Nabi dan rasul adalah mereka yang dikurniakan keistimewaan oleh Allah sesuai dengan tanggungjawab yang dipikul oleh mereka sebagai penyampai risalah Allah kepada seluruh manusia.
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: "Orang yang berjihad itu ialah mereka yang berjihad menentang nafsunya. "
Para sahabat nabi ketika pulang dari berperang dengan orang-orang kafir sering berkata, "kami telah kembali dari jihad terkecil menuju ke jihad terbesar!".
Demikian ini disebabkan melawan hawa nafsu dan syaitan berlaku pada setiap masa, sementara berperang dengan orang kafir jarang sekali. Dengan demikian, upaya melawan hawa nafsu adalah sangat mulia bahkan melebihi jihad berperang. Beratnya melawan hawa nafsu itu sendiri diakui oleh para sahabat nabi.
Bahkan Nabi Sulaiman a.s. pun pernah bersabda : "Sungguh, upaya mengalahkan hawa nafsu lebih berat ketimbang menaklukkan sebuah kota!" [Al-Ghazali, Mukasyah al-Qulub, h.15]

Tuesday, 11 October 2016

AIKIDO BUKAN BELADIRI BIASA #ISTIMEWA

Prinsip Dasar
Aikido juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan. Oleh karena itu dalam aikido ini juga tidak mengenal sistem kompetisi atau pertandingan

Filosofi Aikido
Kekuatan Aikido terletak pada filosofinya. Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan, dll.

"One thing that makes AIKIDO is so powerful"

it utilizes power of opponents to win the fight.

Dasar Pemikiran

Dengan semakin tingginya angka pengangguran di Indonesia, maka semakin banyak tidak kriminalitas akhir-akhir ini yang berdampak pada rawannya keamanan kita, khususnya di Ibu Kota. Perampokan, penculikan, penodongan, pelecehan terhadap kaum anak, wanita dan tindak kriminal lainnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sering terjadi bahkan ditempat-tempat ramai sekalipun. Hal ini merupakan mimpi buruk bagi mereka yang pernah mengalaminya.

Jaminan keamanan yang dijanjikan oleh pemerintah tidak mampu mengatasi kekawatiran kita, sekalipun aparat keamanan telah bekerja keras untuk mengatasinya, karena jumlah aparat keamanan tidak sebanding dengan jumlah masyarakatnya. Salah satu cara peningkatan keamanan kita pribadi adalah membekali diri dengan kemampuan bela diri untuk melatih fisik kita agar waspada dalam menghadapi peristiwa-peristiwa itu.

Walaupun ini bukan jaminan keselamatan, tapi setidaknya kita telah berupaya mempersiapkan diri, sehingga tahu harus berbuat apa pada saat menghadapi serangan yang datang tiba-tiba. Selain dari itu Aikido juga dapat bermanfaat bagi para Eksekutif yang oleh kesibukannya kadang – kadang kurang sempat untuk berolahraga, maka Aikido sangat mungkin untuk dipelajari, mengingat gerakannya yang lembut dan fleksibel. Aikido juga dapat di pelajari oleh setiap orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, sampai orang tua, baik laki-laki maupun perempuan.

Sekilas Tentang Aikido

Menjelang akhir abad ke-18, muncul seorang pendekar yang sangat disegani pada jamannya yaitu Shokaku Takeda (1860-1949), seorang Samurai yang ahli memainkan pedang dari aliran Aiki-Jujutsu dan dari sinilah Morihei Ueshiba (1883-1969) atau bisa disebut O Sensei (Guru Besar) belajar teknik-teknik bela diri yang kemudian mengganti nama Jujutsu menjadi DO, kemudian dikenal menjadi Aikido. Nama Aikido berarti “The Way of Harmony” dan terkenal dengan teknik-teknik lembut yang bergerak secara melingkar dengan memanfaatkan tenaga lawan. Teknik-teknik ini dalam literature bela diri sebetulnya sudah dikenal sejak abad ke-X, tapi berhubung hanya dipelajari oleh kalangan elite samurai dan para bangsawan, maka perkembangannya sangat terbatas.

Teknik Aikido yang dipercaya berasal dari teknik permainan pedang secara umum terbagi menjadi 2 (dua) teknik yaitu :

Teknik Kunci (Katame waza)
Teknik Banting (Nage waza)

Kedua teknik ini saling melengkapi satu sama lainnya dan dapat dipelajari oleh semua golongan, tua,muda,anak anak pria atau wanita. Gerakan-gerakan Aikido yang lembut tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk menjatuhkan lawan. Aikido tidak mengajarkan bagaimana menggunakan pukulan ataupun tendangan, tapi bagaimana kita merespon/bergerak dalam menghadapi serangan-serangan, termasuk menghadapi serangan bersenjata tajam. Untuk mempelajari teknik-teknik ini, diperlukan waktu dan ketekunan berlatih.

In Aikido training, we learn from everyone. We learn from the most experience people, but we also learn from new students. Everyone is connected through the heart and develops a mutual understanding. It is important to create a place where that can happen.
-Linda Holiday-


Filosofi Aikido

Nama Aikido sendiri memiliki arti yang mencerminkan harapan dari pendirinya. Aikido terdiri dari 3 buah karakter kanji Jepang yaitu Ai yang berarti Keharmonisan gerakan tubuh dengan jiwa, Ki yang berarti Energi kehidupan (Chi) dan Do yang berarti Jalan. Jadi Aikido berarti Jalan untuk mengharmoniskan gerakan tubuh dan jiwa dengan energi kehidupan. Dengan kata lain Aikido merupakan suatu jalan untuk mengharmoniskan semua yang ada di kehidupan kita.

Aikido juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan. Oleh karena itu dalam Aikido ini juga tidak mengenal sistem kompetisi atau pertandingan, seperti beladiri-beladiri lainnya. Namun sistem kompetisinya lebih bersifat embukai (peragaan teknik). Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan tetapi “mengarahkan” serangan lawan untuk kemudian menaklukkan lawan tanpa ada niat untuk mencederai lawan. Berbeda dengan beladiri pada umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan stamina, Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik.

Bersandar kepada arti nama Aikido maka Aikido dapat dipelajari oleh siapapun tanpa mengenal batas umur, keadaan fisik yang kuat atau lemah, lelaki maupun perempuan. Ini disebabkan Aikido tidak berpaku hanya mengandalkan tehnik dan kekuatan fisik semata tapi lebih luas dari itu. Kekuatan Aikido terletak pada filosofinya. Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka. Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain.

Hal ini berarti bahwa mempelajari aikido, tidak semata mengerti tatacara gerak fisik bela dirinya semata, namun juga harus memahami filosofi apa yang mendasari tehnik fisik yang ada. Sebab, jika tidak, maka seorang praktisi aikido akan memahami bela diri aikido sebagai semata-mata salah satu jenis olah raga semata. Aikido kemudian akan kehilangan esensinya sebagai aikido, dan tinggal sebagai tehnik bela diri semata.

Dojo

Dojo adalah tempat berlatih Aikido yang dilengkapi dengan Tatami (Matras). Fasilitas yang dibutuhkan untuk berlatih adalah :

Matras berukuran 1 x 2 meter dengan ketebalan + 5 Cm sebanyak 20 lembar/di sesuaikan
Atau Puzzle berukuran 1×1 meter dengan ketebalan + 3 Cm sebanyak 30 lembar/di sesuaikan
GI (baju bela diri) berwarna putih, terdiri dari baju, celana dan sabuk
Waktu latihan 1x seminggu dengan durasi @ 60 menit atau 90 menit

Tingkatan Dalam Aikido

Tingkatan dalam Aikido terdiri dari 2 bagian yaitu KYU dan DAN. Di bawah ini adalah jenjang tingkatan dalam Aikido :

– Kyu 5 s/d Kyu 4    :     Ban Putih (anak-anak dibawah 14 tahun dimulai Kyu 10)

– Kyu 3 s/d Kyu 1    :     Ban Coklat

– Dan 1 s/d Dan 10 :     Ban Hitam

Pengujian kenaikan tingkat (Kyu) dilakukan 6 bulan sekali, dilakukan oleh Ketua Dewan Guru Institut Aikido Indonesia. Sedangkan untuk kenaikan DAN akan diuji oleh utusan dari Hombu Aikikai Jepang (Sertifikasi Internasional).

lebih lengkapnya disini